[Ficlet] Who Am I Series, Track Two : About Time | B1A4

timebout

{About Time | Ficlet | B1A4, Park Hayoung | Straight | a story by sweetraindrops}

start~

.

.

.

Love back then gave me happiness
But in the end, it gave me the sadness of breaking up
Breaking up back then gave me  sadness
But now, it gives me good memories rather than pain

.

.

.

Love is sadness–

 

Jinyoung menghela napas panjang. Segala bentuk ungkapan cinta yang dikatakan oleh Hayoung seakan mengabur bersama angin, terbang, lenyap entah kemana. Meski Jinyoung menelusurinya, berusaha mengumpulkan jejak-jejak sisa yang mungkin di torehkan gadis itu, nyatanya tidak ia temukan sama sekali.

Jinyoung menyandarkan diri di bawah pohon maple tak jauh dari café tempat mereka melakukan pertemuan satu jam yang lalu. Mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang salah dengan dirinya. Namun, ia belum menemukan jawabannya.

“Oppa, aku ingin putus!” Hayoung –gadis yang sekarang sedang berdiri di depan Jinyoung langsung mengatakan keinginannya. Jinyoung yang saat itu sedang merasa bahagia pun merasa hancur seketika.

“Apa maksudmu?” Jinyoung mengedipkan matanya cepat, ia benar-benar tak mengerti. Setengah jam yang lalu, Hayoung mengirim pesan ingin bertemu, tapi, apa yang terjadi sekarang? Jinyoung menelan lidahnya, mengusir gundah yang tiba-tiba menyergap hatinya.

“Maksudku, aku ingin kita berakhir. Haruskah aku menjelaskannya padamu? Ku pikir, kau cukup pintar untuk mencernanya.” Hayoung mendengus pelan. Jinyoung tersentak.

“Duduklah, Katakan padaku yang sebenarnya. Ini pasti salah paham, iya kan? Duduklah.”  Jinyoung berdiri, menggeser bangku kursi depannya, mempersilahkan gadis itu untuk duduk. Mungkin Hayoung sedang ada masalah, pikir Jinyoung. “Kau ingin pesan apa? Biar aku pesankan.” Jinyoung tersenyum hangat.

“Hentikan, Oppa! Tidakkah kau mengerti? Aku ingin putus!” Jinyoung menjengit, Hayoung –gadis itu sedikit berteriak.

“Ya! Katakan alasannya! Kenapa ingin putus? Apa salah yang kulakukan padamu?” Jinyoung yang menahan segala bentuk luapan emosi yang sekarang menyelubungi dasar hati dan pikirannya, mengepalkan tangannya.

“Tidak ada.” Hayoung membalas pertanyaan Jinyoung.

Jinyoung menautkan alisnya, bingung. “Tidak ada?”

“Kau menanyakan apa alasannya, tidak ada. Lalu apa salahmu padaku, tidak ada, tidak ada yang salah.” Hayoung memberikan penjelasan pada Jinyoung dengan hati-hati.

“Kalau begitu, kita tidak bisa putus.” Jinyoung tersenyum. Memijit pelipisnya pelan, ia tak mengerti dengan ucapan gadisnya ini.

“Tidak. Kita putus. Aku sudah selesai denganmu, Oppa. Aku ingin putus, jadi.. hubungan kita berakhir.” Hayoung menopang tubuhnya dengan kedua kaki jenjangnya, mengayunkannya kea rah pintu keluar meninggalkan Jinyoung. Hayoung menoleh kea rah Jinyoung yang masih tidak mengerti tentang semua ini sekilas. “Selamat tinggal.”

Jinyoung melempar bebatuan kecil di sekitarnya. Sekalipun, ia berpikir ribuan kali, ia masih tidak bisa mendapat jawaban dari pertanyaan yang mengganggunya. Hanya Hayoung yang bisa menjawab, namun gadis itu tidak memberikannya.

Jinyoung memegang rambutnya, menghentakkan kakinya beberapa kali. Denyut yang ia rasakan dua kali lebih banyak dari perpisahannya dengan gadis manapun. Its hurt.

–cause its breaking up without any reason.

***

Love is happiness–

Entah sudah berapa kali Gongchan berjalan mondar-mandir dengan seikat bunga mawar di tangannya. Entah sudah berapa kali pula, Gongchan menghembuskan napasnya pelan. Entah sudah berapa kali, Gongchan membenarkan kemejanya yang bisa dibilang sudah sempurna. Gugup mendera di setiap inchi tubuhnya.

“Huft.. bagaimana ini?” Gongchan kembali menggumamkan kata yang hampir dua puluh kali terucap.

“Ehm.. Hayoung-ah, aku menyukaimu, maukah kau menjadi pacarku? Aishhh…” Gongchan kembali mendengus pelan. “Tidak, itu terlalu biasa.” Gongchan kembali mengatur napasnya.

“Hayoung, sejak lama aku memendam perasaan ini, aku mencintaimu.. Bunga ini, untukmu.” Gongchan kembali mendengus lagi. Menggumam lagi dan mengelus puncak hidungnya. Rasa gugup kembali menyelubungi pria berwajah tampan itu. “Oh, apa yang harus kulakukan? Bagiamana aku harus mengatakannya?” Gongchan mendudukkan dirinya di sebuah bangku di sudut taman. “Bagaimana jika ia menolakku? Bagaimana jika ia tidak merasakan hal yang sama sepertiku?” Gongchan menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Hai..” Suara lembut seorang gadis membuat Gongchan mendongakkan kepalanya. Ia tertegun beberapa detik sebelum meresponnya.

“Oh, hai..” Gongchan tersenyum kikuk. Pikiran pria itu masih tak karuan, gugup, bahagia, takut, semua bercampur membuat kepalanya seakan meledak.

“Sudah lama?”

“Eum, tidak. Duduklah, Hayoung..” Gongchan menepuk sisi sebelah kanannya mempersilahkan Hayoung untuk duduk.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Hei, kau terlalu to the point!” Gongchan terkekeh melihat pembicaraan Hayoung.

“Ah, maaf..” Hayoung tersipu malu. Ia memegang kedua pipinya yang terasa panas, menepuk-nepuknya seolah menghilangkan merahnya.

“Aku… eum… ingin mengatakan sesuatu padamu.” Gongchan mengulum ludahnya. Menggaruk tengkuknya; dadanya tiba-tiba berdebar keras saat Hayoung tiba dihadapannya.

“Eum?”

“Aku.. Hayoung, aku..”

“Ya?”

“Aku tak tahu harus mulai darimana dan bagaimana, tapi.. jika aku tidak mengutarakannya sekarang, rasanya tubuhku ingin meledak, ini terdengar konyol tapi.. aku menyukaimu, Hayoung-ah, entah bagaimana, sejak kapan, atau dimana. Setiap hari memikirkanmu, setiap pertemuan kita detak jantungku tak berirama, ini benar-benar gila. Aku.. Aku mencintaimu, Hayoung. Will you be my girlfriend?” Gongchan menundukkan kepalanya seraya mengulurkan kedua tangannya yang telah memegang setangkai bunga mawar merah –kesukaan Hayoung. Debaran di dadanya semakin menguat, seperti bom-bom yang meledak-ledak di setiap sisinya. Menggigit bibirnya dan menutup matanya, Gongchan menahan setiap ledakan yang terjadi dalam dirinya; tak berani menatap sang gadis pujaan. Takut? Mungkin.

“Well, setangkai mawar? Aku pikir kau akan lebih romantis dari ini, Chan..” Gongchan mengangkat kepalanya. Matanya melebar –bingung.

“Yes, I will.” Hayoung mengambil mawar yang ada di genggaman Gongchan lalu menciumnya. “Hei, ini harum.” Gongchan mengedipkan matanya cepat; ‘hey, apa aku salah dengar?’ Degup jantung Gongchan semakin tak karuan, sepertinya banyak orang berlarian di dalam sana, karena ledakan yang begitu banyak.

“Chan? Ya! Ayolah! Apa kau tak senang?” Hayoung memukul pundak Gongchan pelan. Gongchan menggelengkan kepalanya.

“Young-ah, coba ulangi sekali lagi?” Hayoung tertawa lepas.

“Aku mau jadi kekasihmu, Chan!” Hayoung berdiri dari duduknya. Mendekatkan kepalanya, berbisik. “I love you.”

Seketika Gongchan melompat –refleks. Ia tak menyangka jika gadis ini akan membalas cintanya. “Young-ah, kau tidak bercanda kan? Maksudku..”

“Apa aku terlihat seperti bercanda?” Hayoung mempoutkan bibirnya.

“Young-ah! Saranghae!” Gongchan mengangkat tubuh Hayoung, memutarnya sebesar 360 derajat beberapa kali hingga ia hampir terhuyung.

‘Saranghae’

–When, the two has the same feeling.

***

Love is sadness–

 

“Oppa!” Hayoung memekik saat siluet tinggi dan tampan tertangkap oleh indera penglihatannya. Yang dipanggil pun menoleh. Hayoung mengayunkan kakinya setengah berlari. Mengangkat tangan kanannya ke atas sambil tersenyum. Pemuda itu tersenyum geli.

“Oppa, wasseo? Kenapa tidak meneleponku?” Hayoung menepuk dada bidang pemuda itu sekali sambil mempoutkan bibir tipisnya. “Eoh, apa yang Oppa lakukan disini?”

“Jalan-jalan. Apa lagi eoh?” Pemuda itu mengacak pelan rambut Hayoung –kebiasaan lama.

“Sendiri?”

“Seperti yang kau lihat.” Hayoung merangkul lengan kiri pemuda itu. “Jalan denganku bagaimana?”

“With pleasure, Shinwoo-ssi.” Hayoung mengayunkan tangan kanannya ke samping sambil membungkukkan badan.

“Hey, harusnya aku yang melakukan itu!” Shinwoo berdecak. Hayoung tertawa keras –lesung di pipinya tercetak jelas; hal yang disukai Shinwoo.

“Bagaimana London?” Hayoung mengawali pembicaraan mereka setelah berjalan diam hampir lima menit. Shinwoo menikmati pemandangan sungai Han yang disuguhkan di malam hari dengan berbagai kelip yang bertabur –dan keramaian tentu saja.

Tanpa menoleh.. “Menarik.” Shinwoo menjawab sekenanya. Hayoung mengerang.

“Menarik? Hanya itu?” Hayoung menarik Shinwoo untuk duduk di bangku terdekat. “Tell me!”

“What?” Shinwoo mengerutkan keningnya.

“Ceritakan padaku semuanya! Apa yang kau lakukan disana? Bagaimana keadaan di sana? Semuanya, eum?” Hayoung menerangkan sambil menggerakkan kedua tangannya, Shinwoo tersenyum kecil.

“Aku bekerja. Menjalankan bisnis Ayah.”

Heol. Kau tidak menyenangkan Oppa.” Hayoung merengut. “Mana oleh-olehku?” Tangannya ia buka –tanda meminta ke arah Shinwoo.

“Aku mengirimnya ke rumah, kau belum lihat?” Shinwoo menepuk kedua tangan Hayoung yang mengulur.

“Belum. Tadi, aku dari rumah teman dan jalan-jalan ke sini, lalu bertemu Oppa. Ya! Apa Oppa tidak akan pulang?” Hayoung menatap selidik, mengerucutkan bibirnya. Melihat itu, Shinwoo terkekeh.

“Hentikan bibirmu itu, kau menggodaku eoh?”

Hayoung memukul lengan Shinwoo. “I’m serious, Oppa!”

“Aku tidak bilang kau bercanda. Well, maybe not today.”

Hayoung menggeleng lemah. “Waeyo?”

“Sudah malam. Pulanglah. Besok mungkin, aku mengunjungi rumah, sampaikan salam pada Ibu.” Shinwoo menepuk punggung Hayoung.

“Ah, benar! Sudah hampir jam 9!” Hayoung menepuk dahinya. Lalu membenarkan posisi tasnya. “Bye Oppa! Pokoknya harus pulang! Aku merindukanmu, Ibu juga, arra?” Hayoung berlari cepat mengejar bus terakhir yang menuju ke rumahnya.

“Aku bahkan lebih merindukanmu, Young-ie.” Kenyataan bahwa ia mencintai Hayoung adalah hal terindah yang pernah menyapanya. Namun, takdir terlalu kejam, hingga menuliskan bahwa Hayoung adalah adiknya yang sempat terpisah. Shinwoo tau, ia salah, untuk mencintai adiknya, nyatanya berusaha menjauh pun, rasa itu bertumbuh semakin besar, menyesaki relung batinnya.

“Aku mencintaimu..”

–When it is a mistake.

 

***

 

Love is happiness–

 

Baro menghentikan langkahnya, saat Hayoung memanggilnya. “Oppa!” Desauan angin mengantarkan bunyi yang tercipta dari bibir manis Hayoung. Baro menelengkan kepalanya, seketika bibirnya membentuk lengkungan hingga memamerkan gigi kelinci miliknya. Hayoung tersenyum gemas, merajut langkah lebih cepat agar segera sampai di tempat tujuannya –di samping Baro.

Kajja..” Hayoung menggamit lengan kekar Baro. Dengan senyuman yang masih terukir Baro mencubit gemas pipi Hayoung. “Ouch! Sakit, Oppa!” Hayoung mengelus pipinya yang kemerahan; mungkin karena cubitan tadi atau karena malu. Hayoung merasa beribu kupu menghias pipinya menjadi merah sampai kepanasan.

“Kemana?”

“Rahasia..” Mehrong –Hayoung  menjulurkan lidahnya keluar. Di saat mereka berdekatan seperti ini, Hayoung berharap Baro tidak mendengar bagaimana hatinya berdegup begitu kencang, dan bunyi-bunyian di perutnya yang bersiul menggoda. Diam-diam ia tersenyum.

Keheningan menyenangkan yang tercipta selama 15 menit dibuyarkan oleh deheman berat lelaki manis di samping Hayoung. Hayoung berpikir berkali-kali bagaimana bisa pria manis yang imut di sampingnya ini mempunyai suara berat yang bisa dibilang sangat manly. Eh, bukan maksud Hayoung berkata bahwa Baro tidak manly, hanya saja wajahnya terlalu imut untuk suaranya yang begitu berat. Hayoung terkekeh pelan.

“Baby?”

“I-iya?” Hayoung gelagapan. Ia langsung menoleh ke sumber suara.

“Kau kenapa?” Baro menelisik wajah Hayoung.

“Tidak, kenapa?”

“Benarkah?”

“Eung~” Baro menelengkan kepalanya lagi –kebiasaannya  mungkin– desisan keluar dari bibirnya. Rona merah nampak jelas di kedua pipi putih Hayoung. Hayoung menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak tadi. Tentang belahan bibir Baro –oh, tidak, itu membuatnya kelihatan mesum sekarang. Apalagi, saat ini, yang dipikirkannya sekarang ada di depannya. Hayoung menenlan ludahnya susah payah. Manik sipitnya tertuju pada dua belahan yang terukir di wajah Baro. Tanpa sadar, Hayoung mengecap bibirnya.

“Jangan gigit bibirmu..” Baro membuyarkan lamunan Hayoung.

“Eh?”

“Jangan gigit bibirmu begitu, nanti sakit.” Baro kembali melanjutkan langkahnya. Hayoung memilin jari tangannya. Ia harus menghentikan pikirannya berjalan kemana-mana, pikirnya.

“Oppa, kita sampai!” Hayoung merentangkan tangannya sambil menunjukkan tempat tujuan mereka. “Kau ingat?”

“Apa?”

“Tempat ini, kau ingat?”

“Tunggu.” Baro memasang wajah memikir –meletakkan jari telunjuknya di pelipis; khas orang berpikir, bergumam tak jelas.

“Oppa, bagaimana kau bisa lupa?” Hayoung sudah tak sabaran, bibirnya mengerucut membentuk bola. Baro menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

“Ya!” Hayoung meletakkan tangannya menyilan di dada –merajuk.

“Jangan marah, kau tau ingatanku buruk. Jelaskan padaku, ne?”

“Arraseo~, tapi kau tak boleh melupakannya lagi Oppa!” Hayoung masih merajuk.

“Tidak, tidak akan..”

Yaksok?”

Yaksok ^^” Jari kelingking Hayoung tertaut sempurna di jari kelingking Baro. Hayoung tersenyum.

“Ini.. tempat pertama kali kita bertemu, tidakkah kau ingat? Saat aku duduk di sana..” Menunjuk arah di bawah pohon Mapple. “Kau datang padaku yang sedang menangis.” Hayoung terkekeh geli mengingatnya. “Memberikanku sebuah permen? Hey, aku sudah besar saat itu, kau tau? Bagaimana bisa kau memberikanku permen?”

“Benarkah? Tapi kau suka kan?” Baro memotong. Manik matanya dengan seksama menatap Hayoung.

“Bisa dibilang begitu. Lalu kau menanyakan aku kenapa dan memberitahuku namamu, aku sungguh menatapmu aneh, kau tau? Maksudku, kali pertama kita bertemu dan kau sudah mempercayakan namamu padaku dan menghiburku dengan squirrel dance milikmu yang aneh, tidak, sungguh itu lucu, aku masih ingat aku tertawa keras waktu itu, dan..” Hayoung menjadi cerewet saat ini, kicauan-kicauan yang muncul dari bibirnya semakin banyak. Cerita tentang pertemuan mereka, sampai kebetulan-kebetulan yang lain yang membuat mereka semakin dekat. Senyum cantik Hayoung tak lepas saat menceritakan momen-momen dirinya bersama Baro. Baro tersenyum kecil melihatnya.

“dan.. lalu.. kau mengatakan cintamu.. mmmmmmmm…”

Cerita Hayoung terhenti tatkala sesuatu yang kenyal menyumpal kedua belah bibirnya.

“I love you..”

“I love you too..”

–When, I got your lips

***

 

Love is–

Lee Junghwan –pemuda bersurai cokelat kehitaman menyusuri jalan yang menuju ke sebuah café tujuannya. Café yang biasa ia gunakan untuk menghabiskan waktu kosong di antara kesibukannya bermain piano. Ya, pemuda itu, pianis terkenal di–sebut saja–Seoul. Lee Junghwan mengedarkan maniknya ke segalan penjuru café saat kakinya melangkah masuk. Mencari kursi kosong untuk menempatkan tubuh letihnya. Sepertinya ia menemukan tempat yang cocok, bangku kosong pojok dekat jendela.

“Permisi!” Lee Junghwan memanggil seorang pelayan. “Tolong, segelas kopi susu hangat..” Pelayan itu membungkukkan badan sebelum pergi namun tertahan. “Tunggu, gulanya satu sendok saja, oke?” Pelayan itu tersenyum, pergi menuju pantry.

Junghwan menjentikkan jarinya pada layar handphonenya, membaca beberapa pesan dari manajernya kemudian ia mengembalikan ponsel itu di sakunya. “Ah, aku sibuk sekali..” gumamnya.

Lamunan Junghwan dibuyarkan oleh sentuhan hangat seorang pelayan pada meja yang ia gunakan. Junghwan tersenyum hangat, saat kopi pesanannya sudah mendarat dengan baik di depannya.

“Terima kasih.”

“Selamat menikmati, Tuan.” Pelayan tersebut hendak pergi sebelum Junghwan menahannya dengan sebuah pertanyaan.

“Kau.. karyawan baru disini?”

Dengan gugup, si pelayan menjawab “Iya, Tuan. Bagaimana Anda tahu?”

“Ah sudah ku tebak. Aku pelanggan tetap disini, setiap hari aku kesini, dan kupikir kau tidak pernah kulihat sebelumnya.”

“Oh begitu, kalau begitu, saya pamit Tuan..”

“Tunggu..” Si pelayan membalikkan badannya. Menunggu kata apa yang akan di sampaikan oleh pelanggannya itu.

“Ya?”

“Siapa namamu?”

“Eh?”

“Aku tanya, siapa namamu?”

“Park Hayoung.”

“Aku.. Lee Junghwan.” Junghwan memamerkan deretan gigi seputih susu yang tersusun rapi. Junghwan mengulurkan tangannya yang disambut dengan hangat.

–All about time.

.

.

.

Time is flowing by, flowing by like water
In the end, things change
The world changes
Everything changes

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s