[FICLET] Hey Idiot, I love you | 2min

large (2)

{A story made by sweetraindrops}

 {Hey, Idiot! i love you. | Staring by Lee Taemin (SHINee), Choi Minho (SHINee) | Length : Ficlet | Yaoi}

P.S : Ini ff pertama setelah saya lama nggak nulis dikarenakan kesibukan, dan saya agak ragu awalny karena saya bener-bener gak bisa nuanginnya ke dalam bentuk kata. ahahaha, jadi maaf, jika ini benar-benar absurd, sepertinya saya harus mulai sering nulis lagi, buat ngembaliin mood. :p hope u enjoy ^^

Start~~

****

Key benar, aku menyukainya –mencintainya, mungkin.

Taemin bergelut dengan pisau dapur untuk memasak bubur ayam. Setelah mendapat telepon dari Key bahwa Minho sedang sakit dan Key harus bekerja jadi ia meminta Taemin menjaga adik satu-satunya itu. Selesai membuat bubur, Taemin segera beranjak menuju kamar Minho. Tangan kanannya penuh dengan semangkok bubur ayam dan tangan kirinya ia gunakan untuk mendorong agar pintu itu terbuka.

“Ehem.. bagaimana demammu?” Taemin menaruh bubur itu tepat di meja samping tempat tidur Minho.

“Aku baik-baik saja.” Minho mendengus kesal. Taemin mengulurkan tangannya pada dahi Minho, memeriksa.

“Makanlah. Aku akan beli obat sebentar. Oh, apa kau punya obat demam Minho?” Taemin menyodorkan bubur ayam yang dibuatnya.

“Tidak.” Minho mengambil bubur ayamnya. Memakannya satu sendok, sebelum membuka mulut; bertanya sesuatu pada Taemin.

“Bagaimana tulisanmu kemarin?” Minho bertanya dengan bubur masih bergumul di mulutnya.

“Belum selesai. Siang ini aku harus mengumpulkannya kalau aku ingin memenangkan perlombaan. Dan kau sakit, aku tidak bisa mengerjakannya, kau tau?” Taemin sedikit mempoutkan bibirnya, sebal.

“Aku tidak memintamu merawatku!” Minho mendengus. Tak terima jika ia disalahkan.

“Ya! Seharusnya kau berterima kasih padaku, bodoh!” Taemin berteriak tak kalah keras.

“Aku tidak bodoh, Tae!”

“Kalau begitu apa? Berkelahi seenakmu itu tidak bodoh?”

“Kenapa kau mengungkit berkelahi? Aku hanya membantumu!”

“Apanya yang membantuku? Kau melukai dirimu, Minho!”

“Mereka mengataimu, dan aku hanya membantumu, itu saja!”

“Aku tidak merasa terganggu, bodoh!”

“Kau tidak mengerti.” Suara Minho memelan. “Ah, sudahlah, aku sakit. Aku mau tidur.” Minho menarik selimutnya dan menenggelamnkan tubuhnya ke dalam selimut.

Taemin meliriknya. “Ya, istirahatlah.” Taemin menjalankan kaki kurusnya ke arah pintu.

**

Dari sekian banyak hal yang terjadi hari ini, Taemin memikirkan apa yang terjadi pagi tadi, dan malam ini. Setelah pengumuman pemenang lomba, dan Taemin mendapat juara satu, ia mendapat telpon dari Onew bahwa Minho menunggunya di café biasa.

“Apa yang dilakukan orang itu? Dia masih sakit dan pergi ke café, dasar.” Taemin menggerutu di perjalanannya menuju café. “Seharusnya aku mendapatkan selamat, Choi” Taemin mendesis keras.

Begitu sampai di café, Taemin mendapati Minho yang sedang minum. Dilihat dari caranya duduk, Minho pasti sudah mabuk.

“Ya! Choi Minho!” Taemin mendekati Minho dan memukul punggungnya keras.

“Hai, Taemin.” Minho tersenyum melihat kedatangan Taemin.

“Apa yang kau lakukan!” Taemin setengah terpekik. “Berhenti minum! Kau sakit Minho..” Taemin merampas gelas yang ada di tangan Minho.

“Aku sudah baikan.” Minho mencoba mendapatkan kembali gelasnya.

“Kita pulang.” Taemin meletakkan gelas itu pada meja, dan menyeret tangan Minho agar berdiri mengikutinya.

“Hey, kau tidak bisa menyuruhku seenaknya. Memang, aku siapamu, huh?” Minho memberontak, menyentakkan tangannya sehingga terlepas dari genggaman Taemin. Taemin meraih kembali tangan Minho dan mendorongnya keluar café.

Minho yang hampir kehilangan kesadarannya pun menuruti Taemin. Tubuhnya ia masukkan ke dalam mobil dan segera bersandar di bangku mobil. Taemin segera menyalakan mobilnya dan meninggalkan café itu.

“Tae, tulisanmu tadi,  bagus sekali.”

“hm?” Taemin hanya bergumam.

“Apa kau sedang jatuh cinta?” Minho membenarkan posisi tubuhnya. Taemin menatap Minho sekilas. “Tulisanmu, seperti kau sedang seperti itu.”

Taemin terdiam, lalu mengalihkan wajahnya.

“Kau benar.” Minho memandang Taemin.

“Aku jatuh cinta padamu, bodoh!” Taemin mendekatkan wajahnya pada wajah tegas Minho. Deru napas Minho dapat ia rasakan. Minho menghapus jarak antara mereka berdua. Sebuah ciuman kecil.

“Aku mencintaimu, Taemin”

“Kau tau? Aku menunggumu untuk ini, Choi! I love you, idiot..”

—Fin—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s