[Ficlet | straight] Kejujuran

Manik mata berwarna hijau itu menatap lembut pada bulan yang menggantung tepat di atasnya. Membaringkan tubuh rampingnya di seberang danau yang memantulkan sinar putih bulan. Sesekali membenarkan posisi tidurnya.

Angin malam menghembus, membuat helai-helai rambut coklat marunnya bagian depan bergoyang. Hampir 30 menit, ia berada di danau ini. Ia sedang menunggu.

Derap langkah yang lebar menuju ke arah si mata hijau berbaring. Tanpa bicara, pria itu mendudukkan dirinya tepat di samping gadis bermata hijau.

“Kau terlambat.” Gadis bermata hijau membuka suara.

“Mian..” Pria itu menatap lembut pada sang gadis. Namun,si gadis masih setia dengan matanya yang tertutup.

Mengusir bosan, sebuah lemparan batu kecil berhasil membuat aliran air bergelombang. Membuat sedikit riak memecah keheningan.

“Siapa?” Gadis bermanik hijau membuat sebuah tanya untuk sang pria. Sang pria mengerutkan dahinya–seolah tak mengerti apa yang ditanyakan oleh gadia itu.

“Pertanyaanku masih sama Taemin.. siapa?” Gadis itu kembali menegaskan tanyanya.

Taemin –nama pria itu– kembali menenun keheningan. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir plum tebalnya. Taemin membisu. Gadis itu kembali terdiam. Tiba-tiba dada kirinya serasa sesak. Ia tau, bagaimana Taemin akan merespon tanyanya untuk ke sekian kali.

“Siapa, Taemin~ah?” Kembali mengucap tanya yang sama seperti yang lalu. Meski, akhirnya hanya kediaman Taemin yang mampu menjawab.

Masih tak ada. Hening. Berapa lama akan bertahan ? Tak ada yang mampu dilakukannya jika memang bukan ia yang terpilih. Marah pun tak mungkin, dari awal hanya dia yang salah. Dari awal dia yang masuk.

Gadis bermanik hijau itu menopangkan tubuhnya di atas kakinya. Sedetik kemudian melanhkah meninggalkan Taemin. Hanya tak sanggup menahan perih yang mendera mata. Hanya tak ingin terlihat begitu menyedihkan di hadapan sang terkasih.

Jika suatu hari, aku dan dia ada di ambang kehidupan, siapa yang akan kau tolong?

Pertanyaan tiga hari lalu masih terngiang jelas dipikiran gadis itu. Ia menggigit tangannya kasar. Menahan serak suara yang keluar karena tangis.

“Kau..” Taemin sedikit berteriak. Menatapkan matanya pada punggung rapuh gadis itu.

“Jika itu kamu, Moon. Tidak, itu benar-benar kau Moon.”

Tak ada yang keluar dari bibir gadis itu. Masib setia membelakangi Taemin. Sebelum sepenuhnya ia melangkahkan kaki.

kau tidak akan pernah tau apa yang ada dalam hati orang lain. Kau hanya perlu percaya. Tapi, siapkah kau terluka?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s