[Fanfiction | Songfict] Why did I falling in Love with you?

[FANFIC] Why Did I Falling Love … With You (STRAIGHT | SONGFICT)

 

 

 

 

“Why Did I Falling Love With You”

 

Author : Moon

Genre : sad, angst *gagal*, akan terlihat seiring berjalannya waktu

Length : 3.472 words

Main Cast :

  • Lee Taemin
  • Moon (OC)

Other Cast : 

  • Lee Jinki
  • Choi Minho
  • Kim Jonghyun (mentioned)
  • Mrs. Lee
  • Kim Ki Bum

 A/N : hai hai.. ini adalah ff ku yang pertama.. 😀 ini udah pernah aku post di akun pribadi aku tapi ada sedikit remake jadi nggak sama persis lah.. aku rasa alurnya kecepeten, tapi ya, apapun itu, aku menunggu komen kalian, oke? ^^ buat orang yang maksa aku bikin ff, sorry, ini straight :p hope u like it ! ^^

 

 

 

 

Takdir yang sudah digariskan? Aku tidak peduli dan tidak mau ambil pusing tentang takdir jika semua yang mereka katakan benar. Bahwa, setiap  manusia yang diijinkan menghirup oksigen dari pepohonan di muka bumi ini sudah membawa catatan takdir mereka masing-masing. Aku tidak akan melawan. Aku akan menurutinya. Aku tidak akan menggenggam takdir dan  menuntunnya, biarkan takdir yang menuntunku.

 

Aku lelah mendengar bisik-bisik orang yang mengatakan bagaimana mirisnya hidupku. Aku sudah terbiasa dengan mereka yang memandang rendah padaku. Aku sudah cukup bahagia dengan apa yang terjadi padaku sekarang, meski masa lalu terlalu menghimpit sebagian ruang hatiku–kurasa.

 

Sekalipun orang-orang yang selalu berbisik itu meninggalkanku, itu tidak masalah, ada Jinki Hyeong, Eomma, Appa yang akan selalu mendampingiku. Bukankah itu fungsi keluarga? Aku bersyukur untuk ini.

 

Ku tegaskan, aku tidak bisa mempercayai siapapun. Setelah dia meninggalkanku, dan memilih bersama orang lain. Ck. Sulit dipercaya.

 

 

 

Why did I end up falling for you?

No matter how much time has passed

I still thought you were right here

But you’ve already chosen a different path

 

 

>> 

 

Desember 2013, D-5

 

 

Angin malam menghembus pelan. Bulan bersinar terang disudut langit yang gelap, seakan mengejek. Tidak ada bintang, mereka seolah bersembunyi atau mungkin ikut merasakan kesedihan seorang pria tampan yang sedang berdiri di tepi sungai sambil memandang cerminan bulan di dasar sungai itu. Hening. Hanya terdengar seruan angin, dedaunan yang bergoyang karenanya, dan suara riak air sungai yang menghampar disepan mata.

 

Namja itu bernama Taemin, Lee Taemin. Seorang namja yang berprestasi di universitasnya, Konkuk University, sebagai mahasiswa seni –tepatnya seni tari. Menolak dorongan ayahnya yang menginginkannya masuk ke sekolah bisnis untuk meneruskan perusahaan Lee yang sedang berkembang pesat saat ini. Taemin berpikir, Jinki, hyeong nya lebih berbakat dalam hal itu daripada dirinya. Jinki yang dingin dan tegas, lebih cocok sebagai seorang pemimpin daripada dirinya. Toh, Jinki juga tertarik dengan dunia bisnis.

 

Meskipun Taemin, tidak tertarik dengan dunia bisnis, mereka –Jinki dan Taemin, sama-sama mempunyai bakat seni –hal yang Taemin kembangkan saat ini. Jinki dengan suara emasnya, dan Taemin dengan gerakan tarinya yang luwes. Tidak seperti Taemin yang menganggap tari adalah hidupnya, Jinki menganggap menyanyi hanyalah sebuah hobi.

 

Selain mempunyai bakat yang sama, mereka sama-sama tertarik pada perbintangan –astronomi. Hanya untuk melepas kepenatan rutinitas hidup mereka. Satu hal yang indah untuk dilihat adalah mereka saling menyayangi.

  

Taemin menghela napasnya dengan kasar. Menyaruk-nyarukkan kakinya sekedar menghapus kecewa dan sesal yang memenuhi hati dan pikirannya.  Sebersit kekecewaan tersirat dari hembusan  nafasnya. Merutuki dirinya. Bagaimana tidak bergunanya Taemin tentang cinta. Bagaimana Taemin bisa dengan mudahnya melepaskan seorang gadis yang telah memenuhi hati dan pikirannya selama ini. Ck. Seandainya Taemin lebih cepat satu langkah lagi. Ah, tidak, lebih tepatnya seandainya Taemin punya keberanian yang lebih untuk mengungkapkannya. Mungkin takdirnya tidak begini. Mungkin keadaan bisa berubah. Mungkin dialah yang akan mendapatkan hati gadis mungil itu.

 

 

Kekecewaan dan penyesalan selalu tiba di akhir cerita.

 

  

“Sudah lama, Tuan Lee?” teriak seorang gadis yang setengah berlari menuju Taemin sambil tertawa lebar. Merapikan rambutnya yang tertiup angin –sepertinya angin bertiup kencang. Memelankan langkahnya, “Mian, membuatmu menunggu. Ada yang harus ku lakukan bersama Minho Oppa.”

 

“Aniyo. Oh, Begitu. Sepertinya kau sangat sibuk akhir-akhir ini, Moonnie.” Balas Taemin sambil memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi. Mengerlingkan mata kanannya menggoda. “Ah, kau tau? aku sedih. Kau sudah mengambil Minho Hyeong dariku. Bagaimana ini?”

 

 

“Kau tau, persiapan ini benar-benar melelahkan. Dan mwo? Merebutnya darimu? Ck. Dia bahkan tidak menyukaimu Tuan Lee!” Selanya sambil memukul kecil lengan Taemin.

 

“jinjja? Ck, cintaku bertepuk sebelah tangan. Aishh. Haruskah aku menangis?” seru Taemin memasang wajah sedih dan imutnya. Lihatlah, betapa imut pemuda ini. Tidakkah gadis mungil ini berpikir begitu?

 

 

“Ne, kau boleh menangis, tapi nanti setelah Minho benar-benar resmi menjadi milikku. Arrasseo, Tuan Lee?” ledek Moon –gadis mungil itu–, memberi peringatan kepada Taemin dengan telunjuk tangannya dihadapkan pada Taemin, aigoo~

 

“Ya! Seharusnya kau menghiburku! Dan berhenti memanggilku Tuan Lee. Aku tidak suka dengan panggilan itu.”

“yaya! Akulah yang perlu untuk dihibur! Aku tidak lajang lagi setelah beberapa hari ke depan. Arraseo, tapi kau, jangan memanggilku Moonnie. Menyebalkan! Rasanya aneh, kau tau?”

 

 

“Arraseo, Moonnie~!” Ucap Taemin sambil menjulurkan lidahnya. Meledek gadis mungil di depannya ini. Menjulurkan tangannya, dan mengacak rambut Moon dengan gemas. Terbersit rasa kecewa saat menyadari gadis ini akan bersama orang lain dan bukan dirinya.

 

“Ya! dasar! Tuan Lee  menyebalkan!”

 

Hening. Keheningan menyergap mereka. Bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Taemin menatap Moon yang menghela napasnya kasar. Seperti memikirkan sesuatu. Ingin Taemin memeluk, tapi dia urungkan. Menghela napasnya sendiri. Seandainya ia boleh meminta, ia tidak ingin bertemu Moon –gadis di sampingnya– jika dia tidak bisa memilikinya.

 

Moon –cinta pertama Taemin. Sahabat jadi cinta, istilah itu yang cocok untuk Taemin. Moon dan Taemin, mereka bersahabat sejak Junior High School. Takdir atau bagaimana, mereka selalu satu kelas enam tahun berturut-turut –termasuk Senoir High School. Itu juga yang membuat mereka semakin dekat, dan benih-benih cinta tumbuh di hati Taemin.

Ada kejadian dimana Moon menyukai kakak kelas sewaktu Senior High School, namanya Kim Jonghyun. Taemin tau betul, karena Moon selalu menceritakan tentang orang itu padanya. Segalanya, Taemin tau, termasuk rencana Moon untuk menyatakan cintanya pada Jonghyun. Taemin tidak melarangnya, malah mendukung. Taemin ingin gadis yang ia cintai bahagia. Taemin tidak tau bagaimana persisnya yang jelas, setelah hari Moon menyatakan cintanya pada Jonghyun, gadis itu murung. Jonghyun menolak Moon. Jonghyun bilang dia sudah punya kekasih. Setelah itu, Taemin berjanji, akan melindungi gadis itu bagaimanapun caranya. Taemin tidak ingin melihat Moon menangis lagi.

 

 

Dan tentang Minho, Minho adalah kenalan baru mereka di Senior High School. Minho selalu menempel pada Taemin dan Moon. Taemin tidak mempermasalahkannya dan mereka bersahabat sejak itu. Mirisnya, sekarang Minho merebut Moon dari Taemin. Dua tahun mereka berteman, Minho mengungkapkan perasaannya pada Moon, setelah menceritakan semua pada Taemin. Lalu, mereka berdua berpacaran.

 

“Taemin, apakah kau punya seseorang dihatimu?” Moon memecah keheningan di antara mereka. Entah kenapa Moon ingin jawaban ‘belum’ atau ‘tidak’ yang keluar dari bibir plum Taemin. atau mungkin ‘iya’ dan itu dirinya. Terlalu berharap, eoh?

 

 

Taemin menegang mendengar pertanyaan yang diluncurkan gadis mungil itu. Sedetik kemudian, Taemin menghela napas, dan terdiam, sebelum menjawab..

 

“iya. Kau tau kan? Aku sangat mempesona.” Taemin menjawab dengan nada canda. Tapi, Moon tersentak mendengar jawaban Taemin. Mencoba menyembunyikan ekspresi kagetnya. Menata kembali perasaan dan hatinya yang tiba-tiba bergemuruh lebih cepat –dan sakit.

 

 

“nugu?” bisakah kau merasakannya Taemin?

 

“seseorang yang sangat kau kenal.” Taemin tersenyum. Matanya menyiratkan kepedihan yang beberapa hari ini dia rasakan. Menunggu reaksi yang akan dilakukan oleh Moon. Hatinya was was.

 

 

“ah.. sepertinya aku harus pergi. Minho menungguku diseberang toko kopi. Sampai jumpa. Jangan lupa datang di hariku ya!” Moon mengelus lengannya, kedinginan. Memasang senyum yang selalu Taemin kagumi.

 

“ini undangan tidak resmi dariku. Kau tau? Teman, arro?” bisik Moon

“arro” Taemin tersenyum. Tanpa Moon tau, gadis itu membawa sebagian hati dan kebahagiaan Taemin pergi.

 

“annyeong!” Moon melangkah sambil melambaikan tangannya kepada Taemin. meninggalkannya dengan perasaan yang berkecamuk. Dan sekelebat kata ‘seandainya’ muncul bergantian, seolah mengejek Taemin.

 

 

Siapa takdirmu? Untukku, takdirku bukan orang yang kuinginkan. Sayang sekali.

 

 

>> 

 

 

 

Desember 2013, D-4

 

 

 

Why couldn’t I call out to you at all?

Every day and night growing emotions

And words overflow

But I realized that

They’d never reach you again

 

 

“Spica terlibat cinta  segitiga dengan Saturnus dan Luna. Ketiganya mengadu pada Virgo, sang perawan. Entah apa yang dikatakan Virgo, tapi yang jelas Luna kemudian menjauh dari Spica dan Saturnus. Patah hatikah Luna?

 

Di pertengahan bulan Desember ini, tampak jelas di langit malam sisi timur sedikit ke tenggara, tiga benda langit membentuk titik-titik sudut segitiga. Spica – Saturnus – Bulan (Luna). Cahaya yang terpancar dari ketiganya

 

turut meramaikan langit malam bersama taburan bintang lain yang berwarna-warni. Beberapa titik cahaya terlihat kemerahan, putih terang, atau kebiruan. Apalagi memasuki minggu ke-2 Desember (sekitar tanggal 6 – 8 Desember 2013), bulan berada dalam fase purnama. Spica akan terbit lebih dulu sekitar pukul 18.30 WIB, disusul Saturnus beberapa menit kemudian, terakhir Bulan dengan jarak waktu yang kian lama.” –SeoulPos

 

 

 

Taemin kembali mengamati riak air sungai Han di malam ini. Belum rela beranjak dari tempat ini. seharusnya ia bisa mengatakannya bukan? Jelas jelas Moon sudah di depannya, sekarang ia kehilangan lagi untuk ke sekian kali. Seharusnya mudah mengatakan ‘aku mencintaimu’ atau langsung saja menyuruhnya membatalkan pernikahannya. Ah tidak, mungkin seharusnya dia mengatakan perasaannya dan menyuruh Moon menikah dengannya, itu lebih baik dan Moon bisa menjadi miliknya.

 

Taemin menghembuskan napas keras. Memukul dadanya, Rasa nyeri di dadanya sering Taemin rasakan. Sepertinya Taemin perlu ke dokter untuk memerikasakan kesehatannya. Sayangnya, Taemin tidak peduli dengan hal itu. Terlalu berlebihan.

 

“Seharusnya kau mengatakannya.”

 

Taemin tidak tersentak. Taemin tidak menoleh, hanya memandang sungai yang menghampar di hadapannya. Seolah mengenal suara siapa yang menyapanya dengan ucapan yang menyiratkan kekecewaan.

 

“Tidak semudah itu, Hyung.”

 

“Ya, memang. Tapi, setidaknya kau mencoba. Tidak ada yang tau bagaimana, jika belum mencoba, Taem.” ucap pria yang dipanggil Hyung oleh Taemin. Pria yang mempunyai sepasang gigi kelinci. Mata yang hampir seperti bulan sabit. Rambutnya diwarna coklat dan disisir acak di sana sini. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Memandang jauh ke arah sungai yang menghampar di depannya. Seperti yang dilakukan Taemin.

 

“Kau dengar berita angkasa hari ini? Luna menjauh.” Lanjut pria dengan gigi kelincinya. Masih ingat? Mereka menyukai perbintangan.

 

 

“Aku melihatnya. Aku mengamatinya dari auditorium sesaat setelah berita itu muncul. Lihat, alam pun beraksi sama denganku, Hyeong.”

 

“Ck. Kau hanya membela Taemin. Satu hal, menurut pada Virgo, atau karena Luna menginginkannya? Itu sesuatu yang berbeda Taemin. Terpaksa atau karna ingin.” Mengusap punggung Taemin, mencoba menenangkan pikiran Taemin yang sedang kacau. Dia memang tak bisa berbuat apapun untuk mengubah keputusan Taemin, setidaknya ia ingin memberi ketenangan dan rasa aman kepada adik kesayangannya.

 

 “Jinki hyung.. ”

 

“Pikirkanlah. Ini belum terlambat. Aku takkan memaksamu memilih. Kau tau Taemin, aku  menyayangimu”

 

“…” Taemin menatap Jinki yang masih enggan beranjak dari pemandangan sungai malam ini. Menelusup ke dalam pikiran Hyeongnya itu. Mengamati setiap ketegasan yang tersirat di wajah Jinki. Haruskah?

 

“Aku pergi.” Jinki memutuskan untuk meninggalkan Taemin sendiri. Memberi waktu Taemin untuk memikirkan semua keputusan yang dibuat. Taemin memandang figure Jinki yang menjauh. Kemudian kembali mengedarkan pandangannya pada riak air yang memecah keheningannya.

 

“Aku tidak tau.” Taemin mengerang dan melemparkan sebuah batu kerikil yang ada di sekitar danau. Terlalu banyak kesempatan yang ia lewatkan. Memukul kepalanya. Merutuki betapa dirinya begitu bodoh. Begitu terlambat untuk mengakui. Cairan bening membasahi kedua pipi tirusnya, membentuk dua sungai kecil. Menyembunyikan kepalanya di lututnya.

 

“Moon, aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu!” Seharusnya mudah untuk diucapkan bukan?

  

 

Nasehatku, “Cinta”.. katakanlah, sebelum kata “terlambat” menghampiri

 

 

>> 

 

Desember 2013, D-3

 

Since that day I first met you

I felt like I already knew you

You and I melded into each other so smoothly

 

 

Sinar mentari menyusup masuk ke tirai-tirai jendela yang masih tertutup rapat. Pemiliknya masih tertidur pulas. Tangannya mencengkeram erat seprai yang menutupi kasurnya, tidak ingin melepaskannya. Kerutan jelas tercipta di keningnya. Seperti memikirkan suatu beban disana.

 

Enggan membuka mata. Matanya terasa berat karena menangis semalaman. Katakanlah, seorang pria tidak boleh menangis, toh mereka juga manusia yang juga punya kelenjar air mata di sudut mata mereka sama seperti perempuan dan jenis manusia lainnya. Namja menangis? Itu wajar. Mereka juga  manusia. neomu appo! Sekuat apapun Taemin menahannya, ia tidak bisa.

 

“Taemin!” lamat-lamat terdengar suara yang memanggil si empunya kamar. “ya, bangunlah!” ucap Jinki sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Taemin.

“Waeyo hyung?” tanya Taemin setelah membuka pintu kamarnya dan menatap Jinki dengan mimik ‘aku-masih-sangat-mengantuk-hyung’nya. Sebelum mendengar jawaban Jinki yang menurut Taemin sangat lama, Taemin menutup kembali pintunya dan Jinki menggunakan tangannya untuk mencegah pintu itu tertutup.

 

 

Jinki merubah raut di wajahnya dengan muka khawatir. Mengamati ada mata panda dan mata yang mengebi di wajah Taemin.

 

“Gwenchana?” pertanyaan meluncur dari bibir sang pemilik mata sabit itu, menandakan kekhawatirannya.

 

 

“Eum, wae?” ungkap Taemin sambil mengusap wajahnya. Melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya. Memutar kran air dan melihat pantulaan dirinya di cermin. Bibirnya menggumamkan beberapa kata, merutuki matanya yang mengebi karena menangis semalam.

 

“Uljima.” Ucap Jinki yang berjalan masuk ke dalam kamar tidur Taemin. Mengamati suasana kamar sang adik. Ada beberapa kaleng bir berserakan di meja dekat tempat tidur Taemin. Ck, anak itu, beraninya minum tanpa mengajak kakaknya, gumam Jinki.

Beberapa kaset Michael Jackson bertumpuk di rak dekat balkon. Disebelahnya ada sebuah tape yang cukup besar yang biasa Taemin gunakan untuk latihan. Jinki berjalan memunguti beberapa kaleng bir yang terjatuh di sekitar kamar.

 

“I’m not, Hyeong.” Balas Taemin sambil berjalan menuju Jinki dengan handuk yang masih menempel di wajahnya, membersihkan tetesan air yang ada disana.

 

“Buang sampahmu kalau sudah selesai, Bodoh. Dan, lain kali, kau harus mengajakku.” Jinki memperingatkan, menodongkan kaleng bir yang sudah kosong pada Taemin. Taemin merebutnya dan segera membuangnya ke tempat sampah di depan kamarnya.

 

 “Ck, lupakan. Ah ya, kau gantikan aku menemani Eomma jalan-jalan. aku ada rapat hari ini. bisa kan?” Jinki segera berbalik menuju ruang makan sambil membenahi dasi dan jas yang dikenakannya. Terdengar decakan kecil dari bibir Taemin.

 

 

“Aku sedang malas untuk jalan-jalan, Hyeong!”

 

“Ck. Anak ini!” Jinki mengangkat kedua tangannya di atas kepala Taemin dengan posisi jari tengah tangan kirinya diangkat oleh tangan kanannya. Ttakbam! Jurus andalan Jinki.

 

 

“Ya!” Taemin seketika mengangkat tangannya melindungi kepalanya agar tidak menjadi sasaran ttakbam Jinki yang sudah terkenal di Korea Selatan. Aigoo~ hahaha.

 

“ahahahahahaha.” Jinki tertawa keras melihat tampang adiknya yang pasrah. Menuruni tangga dan menceritakan pada Eommanya bahwa usahanya membujuk sang adik berhasil seperti biasa. Hanya untuk mengalihkan perhatian Taemin dari kesedihannya. Jinki tidak ingin Taemin berlarut dalam kesedihannya. Itu  bukan seperti Taeminnya. Bukankah Taemin adalah seorang yang periang?

Taemin berdiri di depan kamarnya mengerang kecil melihat tingkah kakaknya yang sangat kekanakan. Hey, Taemin lah yang seharusnya bermanja seperti itu kepada Eomma nya.

“Taemin, palli kajja!” seru Eomma

 

 

>> 

 

 

Sesampainya di gedung perbelanjaan favorit Eomma, Taemin harus membawakan beberapa belanjaan yang berat dan banyak. Melihat-lihat, menawar, kemudian membeli, seperti itulah. Setelah beberapa jam berkeliling, Eomma memutuskan untuk sekedar mengisi tenggorokan mereka yang kering.

 

Selang beberapa saat, Taemin merengek kepada Eomma agar ia bisa jalan-jalan sebentar. Penat rasanya di tempat yang terlalu ramai. Suasana hatinya tidak mendukung itu untuk saat ini. Tidak peduli berapa kali ia mengalihkan perhatiannya, otaknya akan selalu mengingat gadis itu, Moon. Tempat ini, terlalu banyak waktu yang ia habiskan disini bersama Moon.

 

Mengerti pikirannya yang semakin melayang menjauh, ia memutuskan untuk pergi sebentar dan menjanjikan kepada eommanya akan menjemput di sebuah café di seberang gedung mall ini.

Beberapa langkah terlewat, matanya menangkap papan nama. Kakinya seakan menuruti otaknya untuk memasuki halaman gedung itu, walaupun hatinya menolak. Membuka pintu gerbang perlahan. Mengarahkan kakinya lebih dalam memasuki halaman gedung itu, mengamati pohon Sakura yang tumbuh lebat di sekitarnya.

 

“Sakura..” gumam Taemin. Tidak ada yang berubah kecuali hati gadisnya, kebodohannya, dan keadaannya sekarang. Memantapkan kakinya memasuki gedung sekolahnya. Mengunjungi kelasnya dulu, kelas 3-2.

Tangannya menyentuh setiap sudut kursi dan bangku yang masih tersimpan rapi di sana. Sesekali membersihkan debu yang menutupi. Meniupnya, dan membaca setiap goresan yang teukir, memamerkan giginya yang seputih susu saat menemukan coretan yang menurutnya lucu. Mengamati setiap sudut kelas yang 2 tahun ia tinggalkan. Menggosok tangannya. Rasa dingin sedikit menyeruak dan membuat tangannya sedikit membeku. Berjalan menuju tempat duduk yang ia duduki semasa ia masih sekolah di sini. Jendela itu, jendela yang membuatnya menemukan Moon untuk pertama kali. Mengamati Moon yang sedang berlatih lari untuk kejuaraannya, dulu. Dan tempat pertama kali ia menemukan senyuman Moon yang membuat dirinya jatuh.

 

Menghadap keluar jendela. Ia bisa melihat bagaimana Moon berlari di lapangan bersama teman-temannya –Moon seorang atlet di sekolahnya. Kenangan itu menyembul ke permukaan. Lebih dari yang ia harapkan untuk melupakannya, malah mengingat yang ia lakukan.

 

“Moon..” Taemin terkesiap menemukan pemandangan yang ada di taman. Mengerjapkan matanya, berusaha membuang halusinasinya. Nihil. Taemin bergegas berlari dan menuju taman.

 

 

It was natural for me to be where you were

The two of us grew up together

But you’ve already chosen a different path

 

 

Taemin memelankan langkahnya ketika hendak mencapai taman. Menatap gadis yang ia kira sebagai Moon dari belakang, memastikan ia tidak salah. Menerka-nerka alasan mengapa gadisnya berada di sini. Rindukah Moon padanya? Tidak mungkin. Menepis beberapa argumen dalam pikirannya yang membuat hatinya berbunga.

“Moon?” panggil Taemin pelan. Masih ragu akan apa yang ditampakkan oleh pantulan bayangan retina matanya.

“Eoh, Taemin?!” pekik Moon ketika mendapati Taemin berada di belakangnya. “Sejak kapan kau ada disini?” tanyanya dengan nada terkejut. “Kau mengikutiku?” selidiknya curiga.

 

Taemin tersenyum mendengar ocehan Moon yang sangat cepat. “Aku.. kebetulan lewat sini. Dan ingin menengok bagaimana sekolah yang aku tinggalkan 2 tahun ini. Sedang Musim semi, sangat indah melihat bunga Sakura yang mekar di halaman sekolah.” Ucap Taemin disusul kekehannya.

 

“Kau sendiri? Kenapa disini? Seharusnya kau dikarantina.” Taemin tertawa lepas

 

“Karantina? Enak saja. Kebetulan Minho oppa sedang ada acara di sekitar sini. Jadi aku memutuskan untuk melihat-lihat bunga Sakura di sekolah.” Balasnya tersenyum memamerkan mata sabitnya.

 

“Sudah lama aku tak kesini..” lanjut Moon.

“Oh begitu…”

Drrrt

Terdengar getaran ponsel. Taemin merogoh sakunya dan menemukan nama Ibunya terpampang. Segera ia mengangkat dan berbicara sebentar sedang matanya masih menatap Moon, seolah takut Moon akan menghilang dari pandangannya. Halusinasi, kau tau?

 

“aku harus pergi. Eomma menungguku. Gwenchana?”

 

“ah, ne. gwenchana. Aku masih harus menunggu Minho Oppa. Sampaikan salamku pada ahjumma.”

 

“ne”

 

Percakapan hari ini berakhir dengan kenyataan esok pagi. Ku harap, esok adalah mimpi dan aku segera bangun. Ini mimpi buruk!

 

 

>> 

 

 

Desember 2013, D-Day

 

Why did I end up falling for you?

No matter how much time has passed

I still thought you were right here

Now we can’t turn back


Taemin mematut diri di cermin. Memasangkan baju yang diberikan eomma pada tubuhnya. Apa ia bersemangat untuk hari ini? Siapa yang bersemangat menghadiri pernikahan seseorang yang ia cintai. Menyakitkan. Menyedihkan.

Taemin takut. Dia tidak ingin pergi, tapi dia takut mengecewakan gadisnya dan sahabatnya, Minho. Ya, orang yang akan menikah dengan gadisnya adalah sahabatnya. Apa Minho tidak tau? Tidak! Membuat dirinya sendiri mengakui perasaannya saja terlalu sulit, apalagi menceritakannya. Takut hatinya tidak diterima, ia terus memendamnya. Sampai ia tau Minho menyukai Moon ia semakin memendamnya. Sekali lagi, bukan keegoisan yang merebutnya, tapi keraguannya.

“Taemin~ah, kita berangkat sekarang!”

 

“ne Eomma.”

 

 

Bisakah aku membawamu kembali ke sisiku?

 

 

The special meaning held by this day

Today you stood with a happy expression

You looked beautiful while praying to god

 

Pintu gereja terbuka. Seluruh hadirin yang ada di dalamnya berdiri rapi menunggu Calon Pengantin perempuan memasuki altar. Taemin sesekali menundukkan kepalanya.

‘Bisakah waktu berulang? Atau berhenti? Jangan sekarang!’ doanya dalam hati. Membenarkan dasinya, gerah. Kakinya hendak melangkah keluar dari tempat ia berdiri sekarang. Moon muncul memasuki altar membuatnya mengurungkan niat.

 

Moon berjalan sangat anggun. Mengenakan gaun yang berwarna putih, menyapu jalan yang dilewatinya karena panjang. Moon Melemparkan senyumnya, terlihat sekali ia bahagia. Menatap ke depan, ke arah Minho yang sudah menunggunya. Moon menoleh dan menemukan Taemin disisi kanan tempat ia berjalan. Tersenyum.

 

 

But I wasn’t the one next to you

And the image of you receiving blessings

Of that how could I let go?

 

Minho menyambut tangan Moon.

Janji terucap.

 

Why did I end up falling for you?

How we were before

We can’t return to it anymore (I’ve thought it through, thought it through)

 

Bisakah kau hentikan sekarang? Kau seharusnya menghentikannya Taemin! Dasar bodoh!

 

 

Why didn’t I hold on to your hand?

No matter how much time has passed

You should’ve always been by my side (never changing)

 

Minho menggandeng tangan Moon dan membawanya keluar. Menatap lekat Moon dari kejauhan. Dan kebodohannya kembali mengalahkan dirinya sendiri. Moon berhenti tepat dihadapannya.

 

“Aku senang kau bahagia, Moon” satu kata yang hanya bisa diucapkan Taemin. Betapa bahagia dan terluka di saat bersamaan.

  

But still, even if I’m nowhere near you anymore

I’m praying that you

May be happy for eternity

No matter how much that would make me lonely (no matter how lonely)

 

>> 

 

Cinta.. bukan hanya tentang memiliki

Bukan hanya tentang menyayangi

Cinta.. juga tentang melihat kebahagiaan

Melihat kebahagiaan orang yang kau sayang

Kurasa, itu cukup untukku saat ini..

 

 

Taemin membuka matanya. Menyedihkan mengingat sesuatu yang harusnya kau kubur. Semacam kenangan yang ingin kau lupakan, tapi selalu kau kenang. Mengepalkan tangannya erat. Melanjutkan hidup. Itu yang Taemin harus lakukan. Karena Moon meninggalkannya bukan berarti dia mati. Taemin hanya kehilangan sebagian hatinya yang masih tertinggal dengan sengaja.

  

“Hidup itu bukan mimpi, Taem..” Kim Ki Bum, teman masa kecil Taemin. Ki Bum kembali dari Prancis setelah menyelesaikan study nya disana. Ki Bum sudah tau bagaimana kisah Taemin.

 

“Kau sudah menjadi dancer terkenal di Korea, seharusnya mudah untukmu menemukan kembali hatimu yang hilang.” Ki Bum membawa kopi yang ia buat ke hadapan Taemin. Tersenyum kecil mempertajam matanya yang sudah tajam seperti mata kucing. Menyeruput kopinya yang mengepulkan asap, tanda masih panas. Menatap namja di depannya dengan saksama.

 

“Aku berterimakasih untuk pujianmu..” Taemin mengambil kopinya dan menyeruputnya, seperti yang dilakukan Ki Bum.

 

“Kau tau, ini bukan sekedar pujian. Sudah empat tahun berlalu. Kau harus melupakannya”


Emm, ya. Terima kasih kopi nya..” Taemin menaruh kembali cangkir itu. Matanya berkeliling, mencoba mengalihkan perhatiannya dari topik ini.

 

“Ck.. Hidup adalah bukan tentang bagaimana membangun mimpi, Taem..”

 

“Hidup adalah bagaimana mempertahankan kenyataan. Aku sudah hapal, Key. Kau mengucapkannya berkali-kali.”

 

“Tapi, bermimpi tidak masalah menurutku.. itu indah..” sungut Key

 

“Aku heran, itu kata-katamu. Tapi kau merusaknya sendiri. Ck”

 

“Ah, sudahlah, aku sedang malas berdebat”

 

“Key, aku tidak akan mencarinya. Kalau memang jodohku, takdir yang akan membawanya padaku.”

 

“Ck. anak ini.”

 

Takdir yang tergaris?

Ini jalan yang kupilih

Bersama gugurnya daun di musim gugur.

Bukan Luna atau Spica

Ini hanya aku,

Taemin

 

 

>>END<<

 

I’m waiting your RCL ^^ Gamsahamnidaaa.. /bow/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s